Payday Loans

Perbedaan Islam dengan Agama Lain

Masalah ciri-ciri yang membedakan Islam adalah masalah yang luas sekali liputannya. Dan saya sempat membahas hanya beberapa aspek saja yang telah saya pilih untuk uraian saya ini. Waktu tidak akan mengizinkan lebih dari menyebutkan hanya sekedar sepintas lalu untuk segi-segi tertentu yang tidak ingin saya lewatkan.*

Baca Selengkapnya..>>

Islam: Pembawa Perdamaian

Sebelum kita meneliti apa peran yang dapat dimainkan oleh agama-agama terkemuka dalam membawakan perdamaian bagi manusia di semua bidang kehidupannya, kita perlu memeriksa dahulu peran agama bersangkutan dalam penciptaan perdamaian di antara para penganut aliran-aliran yang terdapat dalam dirinya disamping kemungkinannya untuk hidup damai dengan yang lainnya. Jika kita melihat perkembangan pengaruh materialisme dan kecenderungan beralihnya masyarakat secara keseluruhan dari kesenangan spiritual ke kesenangan sensual, sepertinya menyatakan bahwa agama sudah waktunya disingkirkan dan diabaikan sebagai faktor yang tidak lagi penting.
Saya pribadi tidak sependapat dengan kesimpulan demikian karena bila kita tidak bisa mereformasi sikap, baik internal maupun eksternal, agama hanya akan memainkan peran negatif dan tidak mempunyai manfaat positif dalam usaha kita mencapai kedamaian dunia. Dimana agama seharusnya memainkan peran utama dalam penciptaan kedamaian, menghapuskan kesalahpahaman di antara pengikut berbagai sekte dan agama, menghidupkan kesantunan dan mengembangkan prinsip tidak saling mengganggu, ternyata dalam dunia sekarang ini agama secara menyedihkan hanya memainkan peran yang sangat kecil dan tidak berarti. Tetapi kalau dalam hal menciptakan kekacauan, pertumpahan darah dan menimbulkan penderitaan, ternyata agama merupakan kekuatan yang sangat besar dan dinamis yang tidak bisa diabaikan sama sekali. Tidak mungkin perdamaian dunia bisa dicapai tanpa memperhatikan masalah pokok ini dan memperbaiki kekurangan-kekurangannya.

Baca Selengkapnya…

PEMAHAMAN UNIVERSAL MENGENAI KENABIAN

Mengenai hal ini, Al-Quran mengemukakan :

Kami bangkitkan dalam setiap umat seorang rasul dengan ajaran, Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (pelampau batas). (S.16 An-Nahl : 37)
Kedua, Al-Quran menyatakan bahwa “Wahai Rasul Allah, engkau bukanlah satu-satunya Rasul di muka bumi” :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau,dari antara mereka ada sebagian yang Kami ceritakan kepada engkau dan dari antara mereka ada sebagian yang tidak Kami ceritakan kepada engkau. (S.40 Al-Mu’min : 79)

Al-Quran mengingatkan Nabi Suci umat Islam :

Engkau tidak lain melainkan seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan kebenaran sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan dan tiada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan. (S.35 Al-Fathir : 24-25)

Memperhatikan hal di atas, jelas bahwa Islam tidak memonopoli kebenaran dan menafikan agama-agama lainnya, bahkan secara runtut menyatakan bahwa di setiap zaman dan di seluruh bagian dunia, Tuhan telah memperhatikan kebutuhan spiritual dan keagamaan manusia dengan cara membangkitkan Rasul-rasul yang menyampaikan kabar samawi kepada umat kepada siapa mereka diutus dan ditugaskan.

Baca Selengkapnya…

ISLAM ADALAH AGAMA UNIVERSAL

Berulangkali Al-Quran menjelaskan bahwa Islam adalah suatu agama yang ajarannya terkait dengan fitrat manusia. Islam menekankan bahwa suatu agama yang berakar pada fitrat manusia akan dapat mengatasi waktu dan ruang. Fitrat manusia tidak akan berubah. Dengan demikian, agama yang benar-benar berakar pada fitrat manusia juga tidak akan mengalami perubahan asal saja agama tersebut tidak terlalu mencampuri situasi-situasi transien manusia dalam kurun waktu mana pun dalam sejarah kehidupannya. Bila agama tersebut tetap bersiteguh pada prinsip-prinsip yang bersumber pada fitrat manusia maka agama itu memiliki potensi untuk menjadi agama universal.
Baca Selengkapnya…

Kedudukan Khaataman Nabiyyiin saw.

Tanggapan Terhadap Tuduhan  Mengingkari  Khatamun Nubuwwat

“Inti dan saripati akidah saya adalah: Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullah. Kepercayaan yang saya anut dalam kehidupan di dunia ini, dan — atas karunia serta taufik Allah Ta’ala — dengannya saya akan meninggalkan alam tempat berlalu ini, ialah, bahwa Sayyidina wa Maulana Muhammad Mushthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah Khaataman Nabiyyiin dan Khairul Mursaliin. Melalui tangan beliaulah agama telah sempurna, dan nikmat/anugerah telah mencapai derajat paling lengkap, yang dengan perantaraan itu manusia menempuh jalan lurus lalu dapat mencapai Allah Ta’ala.” (Izalah Auham)

Tuduhan ini jelas-jelas keliru dan merupakan kedustaan. Yakni, na’udzubillaah, Jemaat Ahmadiyah mengingkari ayat Khaataman-nabiyyiin dan tidak mengakui Nabi Muhammad Mushthafa Khatamul Anbiya saw. sebagai Khaataman Nabiyyiin. Sungguh aneh, tuduhan ini dilontarkaan terhadap suatu Jemaat di antara seluruh golongan umat Islam, yang secara teguh meyakini bahwa jangankan satu ayat Al-Qur’an Suci, satu noktah atau satu titikpun tidak ada yang mansukh. Padahal sebaliknya, menurut para ulama dari golongan-golongan lain, sebagian ayat Al-Qur’an telah dimansukhkan melalui sebagian ayat lainnya, dan sekarang ayat-ayat itu bagaikan usus buntu dalam tubuh manusia. Jadi, bukankah ini suatu hal yang aneh ? Yakni golongan-golongan yang mempercayai bahwa di dalam Al-Qur’an Karim terdapat 5 hingga 500 ayat telah dimansukhkan, melontarkan tuduhan mengingkari satu ayat Al-Qur’an Karim terhadap sebuah golongan yang memiliki akidah bahwa jangankan satu ayat, satu noktahpun tidak ada yang mansukh.

Read the rest of this entry »

Definisi Muslim

Di seluruh dunia, ini suatu hal yang telah diakui bahwa sebelum menetapkan kategori seseorang atau suatu kelompok, maka terlebih dahulu ditentukan definisi lengkap tentang kategori tersebut, yang akan berfungsi sebagai ukuran. Selama definisi itu tegak, maka akan mudah untuk memutuskan apakah seseorang atau suatu kelompok dapat dimasukkan dalam kategori itu atau tidak. Dari segi ini permohonan kami adalah, sebelum menelaah persoalan ini lebih lanjut, hendaknya ditetapkan suatu definisi maksimal dan minimal yang disepakati, tentang Muslim. Yaitu suatu definisi yang tidak hanya disepakati oleh segenap golongan di kalangan umat Islam, melainkan juga disepakati oleh umat Islam di segala zaman. Dalam kaitan itu adalah penting untuk memperhatikan persoalan-persoalan yang tertera di bawah ini:

A: Apakah dari Kitabullah atau Rasulullah saw. ada suatu definisi tentang Muslim yang tanpa kecuali telah disampaikan pada masa Rasulullah saw. sendiri? Jika ada, apa definisi itu ?
B: Di luar definisi itu – yang telah diuraikan oleh Kitabullah dan Rasulullah saw., dan yang terbukti telah disampaikan pada masa Rasulullah saw. sendiri – apakah dibenarkan atau tidak untuk menetapkan suatu definisi lain pada zaman tertentu ?
C: Selain definisi tersebut di atas, jika ada definisi-definisi lain tentang Muslim yang berasal dari berbagai ulama atau golongan-golongan di berbagai zaman, apa saja definisi-definisi itu?  Dan bagaimana kedudukan definisi-definisi itu secara syariat di hadapan definisi yang telah diuraikan pada bagian pertama ?
D: Di zaman Abu Bakar Shiddiq r.a., pada masa terjadi pergolakan kemurtadan, apa-
kah  Abu Bakar Shiddiq r.a. ataupun para sahabah Rasulullah saw. telah merasa perlu untuk mengadakan suatu perubahan pada definisi yang sudah ditetapkan di zaman  Rasulullah saw. ?
E: Apakah di zaman Nabi saw. atau di zaman Khilafat Rasyidah ada suatu contoh di mana walaupun seseorang itu mengikrarkan Kalimah “Laa ilaaha illallaah Muhammadur  Rasulullah” dan mengimani keempat Rukun Islam lainnya – yakni shalat, zakat, puasa dan haji – lalu dia tetap saja telah dinyatakan sebagai non-Muslim ?
F: Jika hal ini diizinkan, yakni seseorang walau mengimani kelima Rukun Islam lalu tetap saja dinyatakan keluar dari Islam karena dia menafsirkan beberapa ayat Qur’an Karim yang tidak dapat diterima para ulama dari golongan-golongan lain, atau dia dinyatakan keluar dari Islam karena dia menganut suatu akidah yang menurut beberapa golongan lain bertentangan dengan Islam, maka adalah penting untuk juga menetapkan penafsiran-penafsiran dan akidah-akidah seperti itu. Supaya, hal-hal itu dimasukkan ke dalam definisi Muslim yang sudah dikukuhkan, yakni selain kelima Rukun Islam, jika di dalam akidah-akidah suatu golongan terdapat hal-hal tersebut maka golongan itu dapat  dinyatakan keluar dari Islam.
G: Walau mengimani kelima Rukun Islam, jika pintu untuk mengkafirkan golongan-golongan Muslim tertentu dibukakan, yang disebut pada bagian E, maka memperhatikan hal-hal semacam itu secara logika dan secara adil adalah penting. Yaitu hal-hal yang dengan mempertimbangkannya berbagai ulama secara telak telah menyatakan golongan-golongan lain, di luar golongan mereka, sebagai kafir, murtad, atau keluar dari Islam. Sebagai contoh dipaparkan beberapa hal di bawah ini:

Read the rest of this entry »

Keyakinan Ahmadiyah Tidak Pernah Menyimpang dari Keyakinan Ahlus-sunnah

Pada dasarnya Ahmadiyah tidak pernah menyimpang dari akidah mainstream. Selama ini yang menjadi pangkal keyakinan Ahmadiyah adalah datangnya nabi Isa as. kedua kali yamg sama-sama diyakini oleh mainstream ahlus-sunnah. Perbedaannya adalah hanya pada masalah pemahaman mengenai person dan waktu. Siapa dan kapan..

Berikut ini saya tuliskan beberapa kutipan pendapat yang dirangkum dari berbagai sumber tentang akidah kedatangan kembali nabi Isa as kedua kalinya. Semoga bermanfaat:

Read the rest of this entry »

Selamat Datang

basmalah

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu.

Belakangan ini Ahmadiyah telah menjadi topik pembicaraan. Berbagai kejadian kekerasan yang menimpa ahmadiyah serta kontroversi seputar ajarannya, telah menimbulkan polemik panjang diantara para tokoh negara ini. Tidak kurang berbagai media menyiarkan berita dan informasi seputar ahmadiyah. Dengan berbagai bentuk dan kemasan yang dibuat semenarik mungkin.

ImageNamun demikian informasi yang benar dan akurat tentang ahmadiyah dirasa sangat kurang. Media hanya menyajikan sesuatu yang ‘menarik’ tanpa memperdulikan aspek rasa kebenaran. Padahal dari semua isu yang beredar seputar ajaran ahmadiyah, kebanyakannya hanyalah berupa stigma dan prejudice semata.

Terilhami oleh itu, saya yang lemah ini berusaha keras membangun situs ini demi menyajikan apa yang selama ini dirasa kurang dari semua pemberitaan media, yaitu rasa kebenaran. Dalam situs ini kami berusaha menampilkan wajah ahmadiyah sepolos mungkin, sesuai dengan aslinya. Kami coba sajikan berbagai artikel dari literature-literatur resmi ahmadiyah dengan selengkap mungkin agar pembaca memperoleh informasi yang cukup sebelum menentukan sikap.

Terakhir marilah kita berlomba-lomba dalam kebajikan dan menghindari keburukan. Salah satu keburukan yang berbahaya adalah prasangka. Sebagaimana firman-Nya:

Larangan berprasangka

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 49:12)