Keyakinan Ahmadiyah Tidak Pernah Menyimpang dari Keyakinan Ahlus-sunnah

December 10th, 2008

Pada dasarnya Ahmadiyah tidak pernah menyimpang dari akidah mainstream. Selama ini yang menjadi pangkal keyakinan Ahmadiyah adalah datangnya nabi Isa as. kedua kali yamg sama-sama diyakini oleh mainstream ahlus-sunnah. Perbedaannya adalah hanya pada masalah pemahaman mengenai person dan waktu. Siapa dan kapan..

Berikut ini saya tuliskan beberapa kutipan pendapat yang dirangkum dari berbagai sumber tentang akidah kedatangan kembali nabi Isa as kedua kalinya. Semoga bermanfaat:

1. Pendapat NU yang termaktub dalam Mukatamr ke III di Surabaya tanggal 28 September 1928 :

“ Kita wajib meyakini Isa bin Maryam as. akan datang di akhir zaman nanti sebagai nabi/rasul yang melaksanakan Syariat nabi Muhammad saw. hal itu tidak berarti menghalangi nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir (pembawa Syariat) sebab nabi Isa bin Maryam as. hanya akan melaksanakan Syariat Nabi Muhammad saw. (Ahkamul Fuqaha).
Kemudian ada disebutkan juga bahwa Mahzab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).

Al-Qurtubi, Mufassir terkemuka, juga mempunyai pendapat yang mirip dengan NU memberikan rumusan: “bahwa yang benar (al-shahih) adalah, sebenarnya Allah mengangkat Nabi Isa ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu dan bukan dalam keadaan tidur. Kelak, Ia akan benar-benar diturunkan ke bumi untuk membasmi kemungkaran.”

2. Pendapat Ayahanda Hamka Dr. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)
“….yaitu bahwasanya Isa al Masih yang akan datang itu tidaklah diketahui oleh seorang juga, apakah hakikatnya….Dan siapakah dia? Dan kapankah? Dimanakah? Maka iman dengan dia itu ialah wajib, sedang mengetahui hakikatnya itu wajib pula diserahkan kepada Allah Taala saja….”dst…. (Al-Qaulush Shahih, halaman 134).

3. Pendapat Prof. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)1956, “Peladjaran Agama Islam,” Penerbit “Bulan-Bintang,” Djakarta, Tjetakan Pertama.
“Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa.
Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa
“Mahdi itu tidak lain adalah Isa.” Mereka perbincangkan
apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit,
ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan”

“ Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati,
dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit
dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari
kata “wafat” itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa
mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir
bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau
diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang
mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.”

“Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat
yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah
wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada
“mutawaffika” tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat
Allah, (wa rafi’uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang
suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.”

“Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum
hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama “Al-Uhad.”
Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut
pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita
jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok
kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita
keluar dari Agama Islam.”

“Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan
Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal
yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah
didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang
telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan.
Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak
empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya
empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat
burung itu, dengan izin Allah!”

“Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa
kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah
permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain.
Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa
Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.”

4. Pendapat Ulama Kontemporer

Atau bisa saja Nabi Isa as. diturunkan ke bumi, tapi turun dengan pengertian “semangat”, “ruh”, bukan dengan pengertian hakikat; raga dan bentuknya. Maka, era Isa adalah masa kebangkitan semangat menghidupkan kembali syariat Islam yang telah lama tercabik-cabik. Dan Dajjal bukanlah makhluk raksasa ’setengah dewa’ yang sebelah matanya buta, dengan membawa surga dan neraka di genggamannya, yang menjadi musuh bebuyutan Nabi Isa, tetapi ia tak lebih dari simbol kemungkaran, ikon kejahatan yang dikalahkan oleh ‘ruh Isa’. Pendekatan hermeneutika seperti ini dihembuskan oleh Imam al-Razi, Rasyid Ridla, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Abduh, Alusi, al- Maraghi, serta beberapa pemikir kontemporer lainnya.

PENDAPAT-PENDAPAT LAINNYA :

Pertama, bila Nabi Isa as. diwafatkan dulu sebelum diangkat dan yang diangkat ke langit adalah ruhnya saja, berarti ada dua mayat Isa di bumi. 1) Mayat Nabi Isa as. putra Maryam, 2) Mayat Isa ‘kembaran’ yang diserupakan oleh Allah yang disalib. Pertanyaannya, bila pandangan seperti ini dipaksa untuk diterima, lantas dimana tempat pemakaman Nabi Isa as. putra maryam saat ini? Dan terlalu riskan kiranya, bila kita berdalih dengan adanya ‘kemungkinan’ terjadinya hal itu tanpa mengutarakan argumen dan realita konkret.

Kedua, kalau alasan Nabi Isa tidak akan turun kembali ke bumi karena landasan turunnya Nabi Isa (ruhan wa jasadan) adalah hadits ahad, bukan hadits mutawatir, sehingga tidak memiliki tendensi yang kuat dan hanya berhubungan dengan masalah keyakinan, buktinya Rasulullah saw. pernah bersabda dengan diriwayatkan oleh riwayat mutawatir. Sabda Nabi “Isa putra Maryam akan turun kembali ke bumi dan membunuh Dajjal, lalu ia tinggal beberapa lama (di dunia.) Kemudian ia wafat, dan kaum muslimin menshalatinya lalu mengebumikannya”.

Ketiga, bila sebelum diangkat Nabi Isa telah diwafatkan, dan kelak akan turun kembali, tentunya beliau juga akan wafat kembali sesuai dengan bunyi hadits di atas “Kemudian ia wafat, dan kaum muslimin menshalatinya lalu mengebumikannya,” Jika demikian, maka akan ada sosok manusia yang mati sebanyak dua kali. Padahal, Allah telah memaklumatkan kepada hamba-hambanya bahwa Dia telah menciptakan mereka, lalu mematikan dan akan menghidupkan (membangkitkan) kembali, sebagaimana firman-Nya, “Dialah dzat yang telah menciptakan kalian, lalu memberi rizki kalian, kemudian mematikan kalian dan menghidupkan kembali.”

Keempat, jika dikatakan bahwa yang akan turun kelak di akhir zaman adalah semangat menghidupkan kembali ruh Islam yang dilambangkan dengan Nabi Isa, sementara Dajjal -sebagai rival Isa as.-adalah simbol kerusakan dan kebobrokan masa, maka persepsi ini akan sangat bertolak belakang dengan hadits-hadits yang menjelaskan ciri-ciri Dajjal sebagai sosok mahluk raksasa yang cerdas, bermata satu, membawa gergaji dan air serta neraka dan surga di genggamannya. Atau hadits mutawatir yang menjelaskan bahwa Nabi Isa membunuh Dajjal, lalu beliau wafat, orang-orang pun mensalati dan mengebumikannya. Masalahnya, mungkinkah hadits sharih yang melambangkan wujud konkret Nabi Isa dan Dajjal seperti di atas, digiring pada suatu ta’wil dan makna metafor yang sangat tidak sinkron?

Selamat Datang

November 30th, 1999
basmalah

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu.

Belakangan ini Ahmadiyah telah menjadi topik pembicaraan. Berbagai kejadian kekerasan yang menimpa ahmadiyah serta kontroversi seputar ajarannya, telah menimbulkan polemik panjang diantara para tokoh negara ini. Tidak kurang berbagai media menyiarkan berita dan informasi seputar ahmadiyah. Dengan berbagai bentuk dan kemasan yang dibuat semenarik mungkin.

ImageNamun demikian informasi yang benar dan akurat tentang ahmadiyah dirasa sangat kurang. Media hanya menyajikan sesuatu yang ‘menarik’ tanpa memperdulikan aspek rasa kebenaran. Padahal dari semua isu yang beredar seputar ajaran ahmadiyah, kebanyakannya hanyalah berupa stigma dan prejudice semata.

Terilhami oleh itu, saya yang lemah ini berusaha keras membangun situs ini demi menyajikan apa yang selama ini dirasa kurang dari semua pemberitaan media, yaitu rasa kebenaran. Dalam situs ini kami berusaha menampilkan wajah ahmadiyah sepolos mungkin, sesuai dengan aslinya. Kami coba sajikan berbagai artikel dari literature-literatur resmi ahmadiyah dengan selengkap mungkin agar pembaca memperoleh informasi yang cukup sebelum menentukan sikap.

Terakhir marilah kita berlomba-lomba dalam kebajikan dan menghindari keburukan. Salah satu keburukan yang berbahaya adalah prasangka. Sebagaimana firman-Nya:

Larangan berprasangka

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 49:12)